Contoh Majas Eufimisme, BidangStudi.Com – Majas merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam berbicara dan berkomunikasi sehari-hari, secara sadar atau tidak kita sering menyertakan majas dalam percakapan kita.

Dari sekian banyak majas yang ada, majas eufimisme mungkin menjadi majas yang masih asing di telinga kita.

Maka dari itu, simak ulasan berikut untuk menambah pengetahuan tentang majas ini.

Pendahuluan Tentang Majas

Sebelum mengetahui kalimat atau kata-kata apa saja yang mengandung majas eufimisme, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu pengertian dari majas eufimisme.

Pada dasarmya, majas digolongkan menjadi 4, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran dan majas penegasan.

Diantara keempat majas tersebut, majas perbandingan memiliki contoh yang paling banyak. Salah satunya majas eufimisme.

Hal ini dapat dimaklumi karena semua majas yang termasuk dalam majas perbandingan merupakan majas-majas yang sering kita jumpai.

Disadari atau tidak, kita sering menggukanan ungkapan majas eufimisme dalam percakapan.

Contoh yang paling sering ditemui adalah istilah “Waktu adalah uang”.

Istilah tersebut jelas termasuk dalam majas perbandingan karena membandingan waktu dengan uang.

Lebih tepatnya, istilah tersebut tergolong dalam majas metafora.

Baca: Pengertian dan Contoh Majas Metafora

Fungsi utama majas metafora dalam istilah tersebut adalah untuk membandingkan kedua hal yang berbeda.

Uang dianggap sebagai sebuah nilai yang berharga dan sayang untuk dibuang. Oleh karena itu muncullah istilah “Waktu adalah uang”.

Pengertian Majas Eufimisme

Sebagai salah satu bagian dari majas perbandingan, majas eufimisme juga memiliki pengertian tersendiri.

Jika sebelumnya kita memahami majas metafora sebagai majas yang berfungsi untuk membandingan kedua hal yang berbeda, majas eufimisme memiliki fungsi utama untuk menyampaikan ungkapan dengan bahasa dan kata-kata yang lebih halus.

Bertolak belakang dengan majas ironi yang menggunakan kata-kata halus dengan tujuan untuk menyindir, majas eufimisme benar-benar berfungsi untuk memperhalus sebuah ungkapan tanpa mengubah arti dari kalimat.

Tentu saja majas ini bertolak belakang dengan majas sarkasme yang jelas-jelas menggunakan ungkapan kasar untuk menyindir lawan bicara.

Fungsi dan Contoh Majas Eufimisme

Pembentukan gaya bahasa eufimisme sendiri memiliki maksud dan tujuan yang bisa dikatakan merupakan fungsi.

Beberapa fungsinya adalah:

Memperhalus Ungkapan

Karena fungsinya yang dapat memperhalus sebuah ungkapan, majas eufimisme sering digunakan tak hanya dalam percakapan sehari-hari namun juga acara atau kegiatan formal.

Penghormatan

Tujuan utamanya tentu untuk menghormati lawan bicara agar tidak merasa direndahkan dengan penggunaan istilah yang ada.

Oleh karenanya majas jenis ini sering digunakan dalam kegiatan atau dokumen resmi.

Berikut adalah contoh kalimat-kalimat yang menggunakan majas eufimisme:

Beberapa Contoh Majas Eufimisme dalam Kalimat

  • “Meskipun Andi adalah seorang tuna netra, namun semangatnya dalam menimba ilmu lebih besar dari kita semua.”

Penjelasan: Tuna netra adalah bahasa halus atau kata lain dari orang buta.

Contoh ini tentu sering kita jumpai baik secara lisan maupun tulisan, karena penggunaan kata “orang buta” yang sudah semakin jarang kita temui.

  • “Walaupun seorang lulusan S1, Indri kini bekerja sebagai pramusaji di salah satu rumah makan di jalan kota”.

Penjelasan: Pramusaji adalah bahasa halus dari pelayan rumah makan.

Meskipun kedengarannya istiliah “pelayan rumah makan” tidaklah kasar, namun istilah pramusaji tetap lebih layak digunakan.

  • “Karena terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, nenek itu menjadi tuna rungu”.

Penjelasan: Seperti halnya contoh pertama, tuna rungu adalah bahasa halus atau istilah lain untuk orang tuli.

Mengingat betapa sensitifnya kita jika sudah berbicara mengenai kekurangan fisik, penggunaankata ganti seperti ini wajib untuk diterapkan.

  • “Beni kini menjadi seorang tuna daksa lantaran ibunya kerap mengkonsumsi nanas ketika sedang mengandungnya”.

Penjelasan: Sama seperti contoh sebelumnya, setiap kali kita memperhalus keterbelakangan fisik seseorang, kita menggunakan kata depan tuna.

Dalam hal ini, tuna daksa adalah kata halus bagi mereka yang menderita cacat fisik.

  • “Sekolah Luar Biasa memang dirancang khusus bagi mereka yang tergolong tuna grahita”.

Penjelasan: Jika tuna daksa adalah sebutan halus bagi mereka yang menderita cacat fisik, maka tuna grahita adalah sebutan halus bagi mereka yang menderita cacat mental.

Istilah ini tentu juga sering kita temui baik secara lisan maupun tulisan.

Contoh Majas Eufimisme Lagi

  • “Pemerintah sedang gencar-gencarnya mengumpulkan tuna wisma yang masih berkeliaran untuk segera direhabilitasi.”

Penjelasan: Lain halnya dengan tuna daksa dan tuna grahita, tuna wisma adalah istilah halus bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, atau biasa disebut gelandangan.

Tuna wisma adalah istilah halus yang bisa kita gunakan.

  • “Ibuku kini sedang mencari pramuwisma untuk membantu menyelesaikan segala pekerjaan di rumah”.

Penjelasan: Pramuwisma adalah istilah halus untuk menggantikan sebutan PRT atau Pembantu Rumah Tangga.

Sayangna istilah pramuwisma masih jarang kita temui karena istilah PRT masih dianggap layak untuk digunakan.

  • “Meskipun hanya menjadi seorang pramusaji di kapal pesiar, kakakku berkesempatan untuk berkungjung ke berbagai negara di Eropa.”

Penjelasan: Pramusaji adalah istilah halus yang digunakan untuk menggantikan istilah juru masak.

Meski demikian, istilah ini masih sangat jarang kita gunakan karena banyak orang lebih senang menggunakan istilah koki sebagai juru masak.

  • “Ayahku kini sedang mencari seorang pramuniaga baru untuk menggantikan Mas Pardi.”

Penjelasan: Dalam kalimat di atas, pramuniaga adalah istilah halus yang digunakan untuk menggantikan profesi sebagai seorang penjaga toko.

Sama seperti pramusaji, pramuniaga juga jarang digunakan karena istilah penjaga toko masih dianggap sopan dan tidak kasar.

  • “Gemerlap dunia ibu kota memaksa Rani bekerja sebagai tuna susila.”

Penjelasan: Tuna susila adalah istilah halus yang digunakan untuk menggantikan profesi PSK atau Pekerja 5eks Komersial.

Istilah ini sudah sering kita gunakan karena istilah PSK dianggap kurang layak untuk digunakan.

  • “Ayah Doni harus mendekam di jeruji besi karena terjerat kasus korupsi.”

Penjelasan: Jeruji besi adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggantikan penjara.

Penggunaannya sendiri juga tak bisa dibilang sering, karena istilah penjara masih dianggap pantas untuk digunakan.

Tergantung pilihan pembicara atau selera editor menggunakan istilah yang mana.

Kesimpulan

Tanpa disadari, ternyata kehidupan kita sehari-hari tak lepas dari penggunaan majas, salah satunya majas eufimisme.

Sesuai dengan fungsinya, majas eufimisme sering digunakan untuk memperhalus beberapa istilah yang terkadang dianggap kurang sopan.

Beberapa contoh di atas hanyalah segelintir contoh majas eufimisme yang sering kita jumpai sehari-hari.


rujukan: DosenBahasa¹, Ilmusiana²

Bagikan ke Teman Kamu!
0Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here